Mendidik Anak Dalam Islam: Fase 7 Tahun Pertama

Allah Sang Maha Cinta telah menciptakan satu status prestisius bernama orangtua. Kenapa prestisius? Karena ternyata Allah tidak berikan status ini pada setiap orang, namun Allah memilih sesiapa saja yang diizinkanNya untuk mendidik anak mereka.

Tengok saja, tidak setiap pasangan yang menikah langsung bisa menyandang status ini. Ada yang harus menunggu tiga bulan, satu tahun, sepuluh tahun, bahkan ada yang tidak mendapat amanah anak sama sekali sehingga harus mengasuh anak dari keluarga lain hanya agar mereka bisa merasakan nikmatnya panggilan Ayah atau Bunda. Status ini juga tidak didapatkan karena lulus dari satu sekolah atau akademi manapun. Dalam Islam, pembelajaran menjadi orangtua berlangsung sepanjang hayat. Dan Allah Maha Adil, karena bersama status prestisius ini Allah sertakan ilmu untuk melaksanakannya.

Orangtua dan Anak-anak

Anugrah Menjadi Orangtua (hijapedia.com)

Dalam buku Orangtuanya Manusia, Munif Chatib mengutip Reza Farhadian dalam bukunya Menjadi Orangtua Pendidik, yang menjelaskan bagaimana dalam konsep pendidikan Islam fase tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu,

“Biarkanlah anak-anak kalian bermain dalam tujuh tahun pertama, kemudian didik dan bimbinglah mereka dalam tujuh tahun kedua, sedangkan tujuh tahun berikutnya jadikan mereka bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas. (kutipan perkataan Rasullullah yang tercatat dalam buku tentang adab yang bersumber dari ucapan Abdul Malik bin Marwan)”

Tujuh Tahun Pertama, Masa Bermain Anak

Pada fase ini, jadikan anak selayaknya RAJA. Kurun waktu anak menyandang status ini adalah pada usia 0-7 tahun. Kekhasan anak pada kurun usia tersebut adalah bermain, itulah kenapa Rasulullah menyuruh kita untuk memberikan kebebasan pada anak-anak kita untuk melaksanakan tugas perkembangannya tersebut.

BACA JUGA  3 Cara Memilih Tempat Pendidikan untuk Anak Usia Dini

Banyak pakar menyebut masa tersebut adalah masa golden age, dimana otak manusia pada usia tersebut telah berkembang sebanyak 50%. Untuk memenuhi kebutuhan perkembangan otak tersebut, pada usia 0-7 tahun anak-anak akan cenderung melakukan eksplorasi terhadap hal-hal baru yang mereka temui. Inilah kenapa Rasulullah meminta kita memberikan kebebasan pada mereka, agar mereka dapat memenuhi rasa penasaran dan ingin tahunya yang demikian besar.

Dari Syaddan Al-Laitsi radhiyallahuanhu berkata,Rasulullah SAW keluar untuk shalat di siang hari entah zhuhur atau ashar, sambil menggendong salah satu cucu beliau, entah Hasan atau Husain. Ketika sujud, beliau melakukannya panjang sekali. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil berada di atas punggung beliau SAW. Maka Aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW telah selesai shalat, orang-orang bertanya,”Ya Rasulullah, Anda sujud lama sekali hingga kami mengira sesuatu telah terjadi atau turun wahyu”. Beliau SAW menjawab, “Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain.(HR. Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim)

Anak Menaiki Ayahnya yang Sedang Shalat

Biarkan Anak Puas Bermain (muzir.files.wordpress.com)

Rasulullah Muhammad saw pernah menegur seorang ibu yang bersikap kasar terhadap anaknya, karena telah pipis dalam gendongan Nabi saw, “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?” Dari dua contoh Rasulullah di atas, dapat disimpulkan bagaimana Islam begitu memberi kebebasan pada anak-anak usia golden age untuk menikmati masa kecilnya. Mereka bebas menaiki punggung Rasulullah saat beliau shalat, bahkan ‘bebas’ mengencingi beliau.

BACA JUGA  Wahai Orangtua, Sudahkah Kau Penuhi 4 Hak Anak Ini?

Tugas kita sebagai orangtua adalah agar pada masa bermain ini anak mendapatkan stimulus yang tepat. Hal tersebut bertujuan agar otak anak dapat berkembang secara sempurna. Dengan demikian kita dapat membangun pondasi yang kokoh selama masa perkembangan otak anak.

Banyak larangan pada anak usia ini tidaklah disarankan. Larangan hanya akan membuat anak ‘menyimpan’ rasa ingin tahunya untuk kemudian mencobanya lagi di belakang kita. Ini menjadi berbahaya jika objek yang ingin mereka eksplorasi ternyata adalah hal-hal yang mengancam keselamatan mereka, misal listrik, ketinggian, api, dan sebagainya. Karenanya, sangat disarankan para orangtua tetap memperhatikan keselamatan anak pada fase bermain ini.

Hindari Melarang tapi Bukan Tidak Boleh

Perhatikan Keselamatan Anak (doktoramcam.com)

Meskipun status anak adalah RAJA KECIL pada fase ini, orangtua sebaiknya tetap menerapkan peraturan pada anak. Ini dilakukan agar mereka tidak gagap ketika memasuki fase berikutnya yaitu fase pendidikan dan bimbingan. Bicara mengenai penerapan peraturan ini, Munif Chatib (dalam buku yang sama) mencatat pemahaman tentang peraturan untuk sang Raja Kecil diberikan dengan cara learning by doing dan learning by example, tidak perlu mendidik dengan cara kaku dan keras. Keberhasilannya dapat diukur jika Sang Raja punya kedisiplinan permanen, dia akan punya kedisiplinan internal dalam dirinya. Bahkan, dia mampu menjelaskan ulasannya sehingga mampu menarik orang lain untuk melakukan upaya disiplin tersebut.

BACA JUGA  Mahalan Mana, Anak-Anak atau Gadget?

Terakhir, pada fase ini orangtua harus ekstra bersabar terutama dalam melayani keinginan Sang Raja Kecil. Selain keinginannya untuk terus bereksplorasi, ia juga akan sangat sering mengajukan pertanyaan. Orangtua harus dapat melayani kebutuhan eksplorasi anak dan menjawab setiap pertanyaannya dengan penuh kelembutan dan perhatian.

Inilah fase awal perkembangan anak, fase dimana anak-anak akan dianggap ‘monster kecil’ yang setia mengganggu aktivitas orangtua. Namun bila setiap orangtua sadar pentingnya fase ini dalam membentuk kesiapan mereka memasuki kedua fase berikutnya, para ‘monster kecil’ tersebut akan diyakini sebagai asset orangtua di akhirat kelak.

Komen di sini ya...