Mudik Sebagai Sarana Pendidikan Balita dan Anak-Anak

Tradisi mudik lazim dilaksanakan oleh para perantau yang mencari penghidupan atau menjalani pendidikan di kota-kota besar. Lebaran menjadi momen spesial untuk mereka berkumpul kembali bersama keluarga di kampung yang sudah mereka tinggalkan sekian lama. Dalam perjalanannya, mudik memang makan waktu dan tenaga lebih dari hari-hari biasa. Padatnya jalan karena banyaknya orang membuat perjalanan membutuhkan waktu lebih lama, sehingga tenaga yang dibutuhkan selama di jalan pun juga lebih banyak. Meski harus bersusah payah di jalan, mudik tetap menjadi tradisi yang dilakoni mayoritas perantau. Tak jarang mereka mudik membawa keluarga berikut anak-anak mereka. Kebahagiaan dan nikmatnya berkumpul kembali dengan keluarga seolah menjadi obat mujarab yang membuat semua susah payah tersebut tak lagi berarti apa-apa.

Mudik Bisa Jadi Sarana Pendidikan

Mudik dengan Anak (edorusyanto.wordpress.com)

Susah payah dalam perjalanan mudik, tidak hanya dirasakan oleh para orang dewasa, balita dan anak-anakpun pun juga merasakan susah payah yang sama. Namun, momen mudik ini bisa menjadi sarana pendidikan tersendiri bagi para balita dan anak-anak. Berikut adalah beberapa poin penting mudik bagi mereka :

1. Mengenal Kota, Mengenal Kampung

Perjalanan menuju kampung halaman membuat para balita melihat ada lokasi lain di luar kota tempatnya tinggal. Ini membuat mereka memiliki referensi kehidupan yang lain. Jika di kota mereka terbiasa melihat mall, hotel, gedung tinggi, kafe, restoran, dan tempat bercirikan kota yang lain, maka di kampung mereka akan melihat sawah, surau, gubuk, pasar, bahkan rumah tradisional jika masih ada.

Jatiluwih di Tabanan, Bali

Mengenal Sawah di Kampung (id.wikipedia.org)

Begitu juga dengan jenis pekerjaan atau profesi. Jika di kota mereka terbiasa menemukan dokter, karyawan kantor, dan sebagainya, maka di kampung mereka bisa menemukan petani, peternak, pedagang kecil, penjahit, tukang kayu, dan lain-lain. Selain kehidupan masyarakatnya, mereka juga bisa melihat perbedaan topografi atau bentang wilayah juga perbedaan hawa/udara antara di kota dan di kampung.

BACA JUGA  Sering Terlambat Datang Bulan? Ini 5 Cara Mengatasinya

2. Mengenal Berbagai Macam Moda Transportasi

Mengajarkan Alat Transportasi pada Anak

Berbagai Moda Transportasi (abiummi.com)

Perjalanan mudik dapat dilakukan dengan berbagai macam moda transportasi. Bagi beberapa keluarga yang beruntung, setiap tahun mungkin mereka bisa merasakan moda transportasi yang berbeda. Misal tahun ini naik pesawat, tahun depan naik kereta api, dan seterusnya. Dengan demikian, para balita dan anak-anak bisa mengenal berbagai macam moda transportasi yang mungkin tidak mereka rasakan setiap hari.

3. Mengenal Keluarga Ayah dan Keluarga Bunda

Bagi para perantau yang hanya terdiri dari suami istri dan anak, mudik membuat para balita dan anak-anak bertemu dengan keluarga besar kedua orangtuanya. Selain mengenal keluarga besar (kakek, nenek, paman, bibi, dan sebagainya), balita dan anak-anak juga bisa mengerti silsilah keluarga ayah dan bundanya.

Jangan sampai terjadi seperti yang dialami oleh seorang anak, yang hingga kira-kira usia kelas 6 SD, baru mengerti kalau ayah dan bundanya adalah dua orang yang sama sekali tidak ada hubungan darah. Sebelumnya ia selalu menyangka ayah dan bundanya adalah saudara kandung lantaran keduanya selalu memanggil nenek si anak dengan panggilan yang sama yaitu “Simbok”.

Pendidikan yang Bisa Dipelajari Anak-anak Selama Mudik

Mudik Dapat Membuat Anak-anak Lebih Mengenal Keluarganya (sepankebob.blogspot.com)

Jika sejak awal para balita dan anak-anak diberikan pemahaman mengenai keluarga ayah dan bundanya, maka kesalahtafsiran seperti yang terjadi pada anak di atas bisa dihindari. Balita dan anak-anak dapat diberikan pengertian siapa orangtuanya ayah, siapa orangtuanya bunda, siapa saudara kandung ayah, siapa saudara kandung bunda dan seterusnya.

BACA JUGA  Apakah Bermain Gadget Baik Untuk Perkembangan Anak?

4. Mengenal Budaya Kampung Halaman

Mudik juga dapat memberikan pelajaran tentang budaya di kampung halaman. Salah satu yang bisa dipelajari balita dan anak-anak dengan mudah adalah bahasa daerah. Anak berusia 3 tahun misalnya, dapat mulai diperkenalkan cara berhitung menggunakan bahasa Jawa, saat mudik.

Budaya lain yang dapat mereka pelajari adalah budaya guyub orang-orang kampung, seperti misalnya pada acara perkumpulan keluarga besar atau trah dalam bahasa Jawa. Momen Lebaran biasanya juga dimanfaatkan masyarakat kampung untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga besar. Selain keguyuban, balita dan anak-anak juga dapat belajar keramahan dan persaudaraan yang erat.

Mudik Dapat Mengenalkan Permainan Anak-anak Tradisional

Permainan Tradisional Dapat Dikenal oleh Anak Saat Mudik (garudanews.com)

Namun, yang paling penting dari mengenal budaya kampung halaman ini adalah agar tradisi keluarga juga kampung halaman dapat terus terlestarikan di generasi mendatang meski mereka tak setiap hari ada di kampung. Juga, agar para balita dan anak-anak mengerti dari mana mereka berasal.

Komen di sini ya...